Everheard somewhere, that every woman have one big dream
to make them happy, it’s not about have a lot of money, or great career, but it’s
only about living together with their family. As simple as it is. Have a
family, live with them, happy with them.
Bercerita tentang keluarga, kita selalu punya cerita
masing-masing. Sebelum saya menikah, selama 24 tahun ini, saya hanya
benar-benar dekat dengan keluarga inti saya yang adalah ayah, ibu, dan kedua
kakak saya. Keluarga dari ayah maupun dari ibu, tidak benar-benar saya kenal.
Bahkan kakek dan nenek saya sekalipun. Seingat saya, selama ini saya
dipertemukan dengan kakek maupun nenek, baik dari ayah maupun ibu, hanya 1-2 x
sepanjang hidup mereka. Jarak yang membentang seakan memutuskan intensitas
silaturahmi dan komunikasi antara kami. Sejak kecil saya besar di Timur
Indonesia, sementara sebagian besar keluarga besar tinggal di Barat Indonesia.
Saya masih ingat, jaman sekolahan saya pernah diajak mengunjungi mereka di
kampung, yang ada hanya perasaan asing, jemu, dan tidak betah. Saya pikir saya
sudah terasuki pikiran orang-orang kota yang serba modern, individualis, dan
egoistis. Percayalah, sampai saat ini saya terus menyesali sikap saya saat itu.
Sampai saatnya tiba saya menikah, dan beberapa dari
keluarga saya sengaja datang jauh menyeberangi pulau untuk menghadiri
pernikahan saya, baru terasa, how much I miss them a lot. Bagaimana pun, kami
punya ikatan darah yang sama, riwayatku ada dalam setiap mereka. Kebersamaan
yang hanya beberapa hari itu pun begitu berkesan, kapan lagi coba ada momen
kumpul seperti itu, mengingat saya anak bungsu dan setelahku tidak akan ada lagi
wedding happening. Tidak harus ada nikahan dulu sih memang ^_^, yah mudah2an
silaturahmi antar kami tidak lagi terputus.
Kalau dipikir, beruntungnya keluarga kecil saya yang terdiri
dari ayah, ibu, dan kedua kakak saya
yang sudah tinggal bersama dalam waktu yang lama, jika dibandingkan dengan
cerita-cerita keretakan keluarga yang marak di luar sana. Namun yang sampai
saat ini selalu mengganjal adalah walaupun kebersamaan kami demikian lama dan
harmonis, tapi masing-masing kami adalah orang-orang yang tidak biasa mengungkap
perasaan cinta. Sekilas memang terasa bukan masalah yang krusial, namun
terkadang untuk membuktikan cinta, tidak melulu cukup dengan sekedar memberikan
hadiah di saat tertentu, perlu juga ungkapan lisan atau ungkapan perbuatan
memeluk atau mencium, yang adalah kedua hal ini jarang sekali kami lakukan.
Ungkapan, mommy, daddy, I love you atau yang semacamnya mungkin terasa norak.
Tapi saya rasa itu penting untuk terus menjaga rasa sayang. Ibarat daun,
ungkapan2 semacam itu bagaikan air, yang tanpanya daun akan menjadi layu dan
kering. Jadi, apakah saya berani untuk mulai menyirami dedaunan itu??? Deep down, I really really love them and miss
them a lot.
Mommy, daddy, it’s me your little daughter. Sister,
brother, it’s me your little sister in Bandung. Always pray for you, May Allah always take care of you
there..Always gonna be love and miss you all there... in Makassar…
Wanita adalah
karunia terindah yang ada dan penting di dunia, tapi banyak perjuangan
dan pengorbanan wanita tidak di ketahui pria/suami.
1.
Ketika suami menginginkan menikah lagi dan perempuan berusaha menerima
(karena alasan ekonomi atau agama atau alasan apapun), coba suami
bayangkan dengan hati yang jernih istrinya akan duduk sendiri di setiap
malam dalam gelap kamar saat suaminya tengah mendekap mesra seorang
perempuan lain di ranjang lain. Ia akan (mungkin) menangis karena
terluka, tapi demi anak-anak ia akan berusaha menerimanya dengan
sabar... (teganya-teganya...tuch suami-kacidaaa-)
2. Sebagai
isteri ia siap mengorbankan impian-impiannya demi mengurus suami (yang
kadang bersifat kekanak-kanakan dan minta diurus) dan anak-anak yang
bandel.
3. Ketika suami mencela masakannya, ia akan bersusah
payah belajar masak dari siapapun untuk bisa menghidangkan makanan
dengan rasa terbaik pada suami dan anak-anaknya.
4. Ia bekerja
24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jam kerjanya tak berbatas. Ia bangun
ketika siapapun di rumah belum bangun, mulai bekerja, memasak,
membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu mengurus suami sebelum pergi
kerja, mengurus anak-anak berangkat sekolah, ketika pakaian kering di
jemuran ia akan mengangkatnya dan menyetrika dengan rapi.
5.
Kemudian setelah begitu capek mengurus rumah tangga, malam giliran
memenuhi ini itu suaminya. Mulianya seorang isteri adalah: tukang masak,
tukang cuci, cleaning service, babu dan wanita penghibur digabung jadi
satu.
6. Ketika suaminya menginginkan punya anak 4,5,6 atau 9
orang, ia sebagai isteri harus siap menderita mengandung anak dan
bertarung nyawa melahirkannya. Suami kadang tidak terlalu paham
penderitaan macam begini karena mereka tidak mengalaminya
7.
Meski laki-laki tak paham benar, tapi Allah Maha Mengerti, karena itulah
ia memberi reward pada pengorbanan perempuan. Bagi yang meninggal
karena melahirkan anak, Tuhan langsung memberinya surga. Bagi isteri
yang setia bekerja mengurus rumah tangganya, dengan sabar dan ikhlas,
maka silahkanlah ia masuk surga dari pintu mana saja ia suka.
Thanks to kang Ayi Rukandi Mudin & Wife for such beautiful words and great inspiration :)
Dalam salah satu buku yang berjudul “Psikologi Suami
Istri” disebutkan bahwa ada perbedaan mendasar psikis, naluriah, maupun
kebiasaan antara suami dan istri. Suami sebagai laki-laki dengan sifatnya yang
khas, begitu pula dengan istri sebagai wanita dengan kekhasan nalurinya, kadang
menjai kendala ketidakharmonisan akibat satu sama lain belum memahami perbedaan
ini.
Jauh sebelum dibahas dalam buku kontemporer ini,
sebenarnya Allah SWT sudah mengabarkan ini dalam Al-Qur’an.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatunya
dengan keteraturan yang sempurna. Tiada yang melebihi kemampuan, kekuatan, dan
kuasaNya.
Allah menciptakan laki-laki dan perannya sebagai pemimpin
dan kepala keluarga dan wanita sebagai manajer rumah tangga. Masing-masing memiliki
lading pahalanya masing-masing yang tiada dibedakan nilainya melainkan hanya
dari derajat taqwanya.
Belum satu tahun usia pernikahanku dengan suami, kami berdua selalu mencoba untuk belajar dan merenungi berjalannya rumah tangga selama hampir 4 bulan ini. Dengan kondisi long distance yang dijalani bukan jadi halangan untuk menjadi keluarga yang harmonis. Rahasianya, keep in contact, good communication, dan coba untuk saling memahami kondisi satu sama lain.
Semoga dengan ulasan ini bisa menambah luasnya cakrawala kita yang sudah berkeluarga maupun yang akan berkeluarga biar rumah tangga tetep langgeng dan awet.
Dosa kita sebagai individu dalam keseharian mungkin bak gunung yang menjulang tinggi, jangan menambah lagi dengan dosa-dosa baru baik sebagai suami maupun istri. Terlebih lagi, kesalahan-kesalahan tersebut bisa sampai merusak kesucian pernikahan yang pada dasarnya adalah ikatan perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghaliza). Yuk kita bertaubat akan dosa yang kita perbuat, baik sebagai individu maupun dalam peran kita yang lainnya dalam kehidupan.
Diantara dosa yang bisa merusak pernikahan:
a. Suami :
1. Suami tdk berfungsi menjadi pemimpin dgn baik akibatnya saling melukai.
2. Suami gagal menjadikan Istri nomer satu dlm hidupnya.
3. Suami membandingkan Istri dgn wanita lain.
4. Suami kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk.
5. Suami gagal memuji hal-hal kecil dari Istri.
6. Suami menolak pendapat Istri.
7. Suami tdk pernah minta maaf.
b. Istri :
1. Istri tdk menghargai Suami sebagai otoritas.
2. Istri gagal menundukan diri kepada Suami.
3. Istri gagal menampilkan kecakapan manusia batiniah.
4. Istri gagal menunjukan rasa syukur kepada Suami.
Kebutuhan seorang Suami :
1. Sex.
2. Istri sebagai sahabat.
3. Rumah yg rapi.
4. Istri yg menarik
5. Saling menghargai.
Kebutuhan seorang Istri :
1. Kasih dan penghargaan.
2. Diajak bicara.
3. Jujur dan terbuka.
4. Keuangan yang cukup.
5. Komitmen terhadap keluarga.
Ingat..
Kepala keluarga yang berhasil dalam keluarga maka keberhasilan yg lain akan mengikuti,
Kepala keluarga yg gagal dalam keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti.
Kebahagiaan perkawinan membutuhkan perjuangan yang tidak kenal lelah, dan membutuhkan kehadiran serta pertolongan Allah.
Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yg rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dengan cucuran air mata.
Belaian tangan suami adalah emas bagi istri.
Senyum manis sang istri adalah permata bagi suami.
Kesetiaan suami adalah mahkota bagi istri.
Keceriaan istri adalah sabuk di pinggang suami.
Perbaikilah apa yg bisa diperbaiki sekarang sebelum terlambat. Cintailah pasangan yang telah dipilih-Nya untukmu
Bagi yg belum Menikah, ini bisa menjadi bekal kelak bila anda menghadapi hidup Pernikahan.
Nasihat dari Ummu zidan Al Fathi III dan pengantar tulisan dari saya sendiri :)
Hampir 1 bulan sejak aku
menghilang dari peredaran di kampus sekaligus tempat praktikku, saat aku
kembali kesana tak sedikit teman-teman yang mengaku keheranan dengan kabar
pernikahanku. Mereka tidak pernah menyangka sedikitpun, kabar tunangan nggak
ada, pacaran nggak pernah, main sama cowok juga nggak, kok bisa sih undangan
tiba-tiba nyebar??? Hahahaha. Udah akhir jaman kayak gini, masa’ masih pacaran
aja sih yang kepikiran, kapan tobatnya, ya nggak… ^_*
Inilah jalanku, kupilih
jalan yang mungkin orang akan memandangnya aneh dan tak biasa. Berawal dari
pemahamanku tentang sempurnanya agamaku dalam me-manage hidup seseorang, orang
banyak, bahkan sampai tatanan Negara juga ada aturannya sis and bro :). Aku pun mantap
menjalankan dan bertumpu pada tuntunannya. Aku yakin setiap manusia dianugerahi
naluri untuk mencintai orang lain, entah itu orang tua, saudara, keluarga,
sahabat, teman, termasuk lawan jenis. Anugerah ini diistilahkan sebagai
Gharizah Nau’. Lantas, apakah jika seseorang tertarik dan mengaku cinta pada
lawan jenis boleh sekonyong-konyong dijadikan pacar seenaknya, kalau sudah gak
cinta tinggal putus trus cari pacar lagi…wkwkwk. Ternyata, dalam agamaku,
perasaan mencinta ini adalah fitrah tiap anak manusia. Cuman ada rambu-rambunya
biar ndak kebablasan. Kenali ia dengan cara taaruf, seriusi dengan khitbah,
baru deh resmikan dengan nikah. Ya itulah yang aku dan dia (yg sekarang telah
menjadi suamiku) jalani.
Kami berhasil menepis
keraguan banyak orang yang selalu menanggap “klo ga pacaran dulu, gimana bisa kenal
bibit bebet dan bobotnya? Apalagi memutuskan untuk nikah?”
Kami juga berhasil
membuktikan pepatah “indahnya pacaran setelah menikah”
Sajak ini sebenarnya sudah lama kubuat dan pernah di share di fb. Tapi nggak afdhol kalau belum di post di blog. Saat dibaca ulang rasanya setengah percaya aku pernah membuat sajak yang begitu dalam dan memilukan :D
Sajak ini tentang after marriage-ku dan suami yang harus memulai rumah tangga long distance 1 bulan setelah kami menikah. Berat sekali rasanya, dengan bersajak seperti ini bisa jadi obat yang meringankan :)